Rabu, 19 Agustus 2015

Pulang

Ya Tuhan, aku menginginkan untuk pulang. Meski aku tak tahu harus pulang kemana. Pulang ke rumah-Mu pun boleh. Tuhan, tnjukkan aku jalan yang lurus, kuatkan badan dan hatiku dalam menempuh jauh dan lelahnya perjalanan di dunia, agar ketika aku kembali kepada-Mu, pulang ke sisi-Mu, aku dapat bertemu dengan-Mu dalam lelah yang membahagiakan.

Boleh ya, Tuhan?
Kau kuat. Itu yang harus kau ketahui. Jika kau tidak tahu, maka sekarang kuberi tahu bahwa kau itu kuat. Jika kau masih tidak merasa bahwa dirimu kuat. Berpikirlah bahwa kau kuat, itu saja sudah cukup untuk membuatmu menjadi lebih kuat daripada dirimu yang terus-terusan berpikir lemah.

Karena sebenarnya kau kuat.

Berbohong

Maaf ya, sebenarnya aku sering berbohong padamu. Tentang diriku, tentang apa yang aku rasakan, tentang apa yang aku pikirkan.

Maaf ya aku sering berbohong padamu, bahwa diri ini tidak membutuhkanmu

Aku hanya ingin meyakinkan diriku bahwa aku baik-baik saja tanpamu, dan bahwa aku mampu melakukan apapun dengan diriku sendiri.

Maaf ya, jika aku berbohong . . .
Aku meringkuk di sudut ruangan. Tanganku meraba-raba dinding di belakang, memastikan bahwa dinding itu benar-benar kokoh untuk aku sandarkan. Lidahku merapal kata "yasudah" berulang kali sembari menghela napas panjang, sekadar meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ya, semua akan baik-baik saja. Karena ketakutan yang kurasakan sesungguhnya tidak nyata. Ia hanya ada dalam pikiranku, memanipulasi otakku hingga membuat keluaran imajinasi yang tak wajar, berlebihan, bukan idealis, tapi juga bukan realita. Mungkin kau bisa menyebutnya sebagai sebuah fantasi? Fantasi akan sesuatu yang menakutkan, yang lahir dari kekhawatiran tak berdasar akan masa depan yang tidak pernah kita tau bentuk dan wujudnya. Fantasi itu membuat tokoh dan karakter yang ada di dunia nyata menjadi jauh lebih menyeramkan, membuat alurnya menjadi sangat menegangkan hingga kau hanya melihat bahwa di akhir sana hanya ada garis mati. Padahal, garis mati itu tidak berada di sana. Garis mati itu hanyalah check point untuk dilewati, dan jika garis mati itu sudah terlewati, maka habis pula fantasimu.

Sudah. Sudahi saja semua fantasi akan ketakutan dan kekhawatiran itu. Berhentilah berpikir melebihi apa yang tersaji di depan mata. Berhentilah berpikir hal paling buruk untuk mengantisipasinya. Berhentilah. Jangan memikirkan hal buruk jika tidak mau itu terjadi. Berpikirlah bahwa hari akan menjadi hari bahagia. Sama seperti hari-hari lain yang terlewati dengan ketakutan di awal hari, tapi kita semua tahu, di akhir nanti akan selalu ada hal baik untuk disyukuri.

Aah, iya, mungkin aku hanya lupa untuk bersyukur ...

Jumat, 12 April 2013

Hening

Kadang kala, aku menyukai keheningan yang mencekam ini

Keheningan yang mencekik sehingga tak ada seorangpun yang ingin terkungkung di dalamnya


Tapi, seperti yang aku bilang, aku menyukainya

Keheningan ini ketika akhirnya hanya ada aku dan Dia
yang membuatku HARUS sangat bergantung pada Nya

Kamis, 11 April 2013

Tentang Hati


Ya Allah…

Sesungguhnya di dalam jasad ini ada sebuah hati, yang senantiasa resah dan gelisah apabila ia jauh darimu

Maka, Ya Allah … genggamlah ia dalam KuasaMU, peluklah ia dalam DekapanMu

Agar ketika ia jatuh, ia jatuh dalam dekapan Mu yang Maha Kasih,

Agar ketika ia jatuh, ia jatuh dalam jalanMu

Dan agar ketika ia berjalan terlampau jauh, ada tanganMu yang menjaganya untuk tetap dalam jalurnya..

Ya, Allah ….

Sesungguhnya di dalam jasad ini ada sebuah hati yang senantiasa tunduk pada kebesaranMu …
Maka kuatkanlah ia Ya Allah …

Agar ia senantiasa berada dalam ridha-Mu ..


Ada Sejuta makna tentang cinta yang tak pernah kita pahami, sayang …

Tidak kau, tidak juga aku …

Bahkan tak satu orang pun di dunia ini benar-benar memahami makna cinta tu sendiri …

Karena ia memiliki lebih dari satu makna, sayang ..

Ia memiliki seribu, bahkan jutaan makna tergantung bagaimana kau menafsirkannya, sayang …

Tidak, aku tidak akan menyuruhmu mencari sejuta makna tersebut, karena itu hanya akan membuatmu ragu …

Aku hanya ingin kau paham, bahwa di setiap belaianku, di setiap kata-kataku untukmu ada cinta yang kuberikan untukmu, sayang ...

Begitu juga untuk setiap sikap yang kutujukan kepadamu …
Karena cinta tak terbatas hanya pada kata-kata, sayang …

Ada yang lebih besar dan lebih bermakna dari itu …

Yakni hati …